Mengkaji Geger Tengger karya Robert William Hefner Historisme
MENGKAJI
BACAAN GEGER TENGGER :PERUBAHAN SOSIAL DAN PERKELAHIAN POLITIK KARYA ROBERT
WILLIAM HEFNER TAHUN 1999
Keadaan
masyarakat dataran Tinggi, terutama spesifik dalam perekonomiannya dipengaruhi
oleh keadaan historis yang terjadi. Yakni berbagai macam faktor pembentuk yang
akhirnya menjadikan masyarakat dataran Tinggi di Jawa Timur khususnya
masyarakat dataran Tinggi Dieng memiliki beberapa hal yang dapat dipandang
sebagai pembeda dengan masyarakat pada dataran rendah pada umumnya. Masyarakat
dataran tinggi dirasa memiliki keseuaian peran yang lebih besar dalam keadaan
ekonomi secara luas dalam lingkup Jawa dan Asia Tenggara. Dari pengamatan
perekonimian Tengger dinilah mencoba untuk menjadikan suatu generalisasi
mengenai budaya dan masyarakat Jawa (Robert Hefner, 1999). Prosesgeneralisasi
inilah yang coba dilakukan oleh Robert Hefner dalam bukunya Geger Tengger.
Berikut akan dibahas ulasannya secara lebih lanjut.
Kurang
lebih secara implisit penulis menghadirkan suatu permasalahan yang mengenai
kajian keadaan ekonomi masyarakat Jawa pada umumnya, secara lebih khusus dengan
studi padamasyarakat di dataran Tinggi Tengger. Permasalahan yang dikaji adalah
bagaimana keadaan ekonomi, khususnya pertanian di dataran Tinggi Tengger yang
dilihat dari segi masa lalu dan masa sekarang. Dimana keadaan ini nantinya
ditarik suatu interpretasi general keadaan pertanian masyarakat pada umumnya
yang dipengaruhi masa kolonial. Berikut kutipannya,
“Buku ini mencoba untuk memahami
suatu pengalaman masyarakat petani Asia Tenggara melewati perubahan politik dan
ekonomi sejak masa prakolonial hingga sekarang.” (Robert Hefner, 1999 h.xxii)
Tentu
dalam suatu penulisan pasti terdapat suatu paradigma yang dipakai oleh penulis
dalam memahami bidang kajiannya. Dimana paradigma inilah yang nanti akan
memengaruhi cara pandang dalam melihat suatu realitas dan juga menyikapinya.
Dalam tulisan ini penulis menggunakan paradigma (partikularisme) historis.
Diketahui bahwa paradigm ini
“Sejak akhir abad XVIII M, hubungan
pemilik tanah dan buruh ditransformasikan oleh Negara kolonial Eropa. Pemimpin
desa diberi penghargaan atas kerja samanya dengan bantuan tanah yang luas, pembentukan
elite baru dan kaya.” (Robert Hefner, 1999 h.381)
Dari
pernyataan dapat dianalisa bahwa penulis meninjau keadaan pertanian dari segi
budaya sejarah, yakni terutama pada masa kolonial. Dimana masa tersebut
dianggap membawa pengaruh terhadap keadaan perekonomian masyarakat pertanian.
Sementara
itu terkait dengan teori yang digunakan penulis adalah teori cultural-historis.
Dimana teori ini memiliki pandangan bahwa setiap masyarakat memiliki suatu
pengaruh sejara yang khas danharus disadari bahwa ini juga tergantung dari
pengaruh spesifikasi konteks lingkungan budaya masing-masing, terutama pada hal
proses masa lalu. (Cascadia Faculty) Kondisi masa lalu inilah yang menjadi
pembeda antara satu kebudayaan dengan yang lainnya. Hal ini dapat dilihat dari
kutipan berikut,
“Meskipun sangat dipengaruhi oleh
berbagai hal yang terjadi disekitarnya, masyarakat dataran tinggi Tengger
berbeda dengan gambaran masyarakat pertanian sawah di dataran rendah….
Tersedianya tanah pada abad XIX M dan harga tanah yang murah selama abad XX M
memungkinkan penduduk untuk mengusahakan tanah secara bebas” (Robert Hefner,
1999 h.380)
Metode
penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode studi lapangan yang bersifat
sosio-genetik, yakni melihat dan menelaah berbagai bentuk kebudayan dan makna
hidup masyarakat dengan
perubahan-perubahan yang terjadi. Terdapat pada kutipan dibawah ini,
“Metode penelitian lapangan serta
corak naratif dalam buku ini. Sejak awal tahun 1970-an para ahli teori
interpretative telah berulang kali mengingatkan akan “bahaya bahwa analisis
cultural- akan kehilangan hubungan dengan wajah-wajah kehidupan yang keras” (Robert
Hefner, 1999 h.xvii)
Penulis
juga menggunakan data primer yang dilakukan dengan wawancara kepada masyarakat
sekitar secara langsung dengan melakukan 342 kali wawancara dengan
masing-masing 2 jam di wilayah lereng atas. Berikut kutipannya,
“Saya melakukan serangkaian panjang
wawancara…. Saya melakukan 342 wawancara (masing-masing sekitar 2 jam) di
wilayah lereng atas, mengenai organisasi sosial rumah tangga, kekayaan,
produksi dan konsumsi.” (Robert Hefner, 1999 h.xxii)
Asumsi
yang digunakan penulis untuk memperjelas keadaan ekonomi masyarakat dataran
Tinggi Tengger yang mendapat pengaruh terhadap hadirnya kolonialisasi adalah
dengan kutipan berikut,
“Belanda membawa suatu jenis Negara
baru yang secara sistematis mencampuri urusan-urusan pedesaan, dengan suatu
pikiran licik dapat memanfaatkan kekayaan mereka. Dengan memberi waktu yang
terbatas kepada administrator pribumi, mengganti titik pusat pola ‘lingkaran
memusat’ masyarakat politik Jawa dengan suatu birokratis yang seragam. ‘berlaku
untuk seluruh daerah, menghubungkannya ke dalam suatu kesatuan administrative”
(Elson 1978b, 42) Tujuan utamanya adalah untuk memanfaatkan energy pribumi bagi
kepentingan Negara.” (Robert Hefner, 1999 h.383)
Masih
berkaitan dengan asumsi, terdapat suatu argument yang diungkapkan oleh penulis
mengenai adanya pengaruh pemerintahan terhadap usaha-usaha pertanian warga
pribumi. Berikut ini kutipannya,
“dan yang sangat penting adalah
penyesuaian secara terus-menerus hubungan antara Negara dan masyarakat. Satu
hal yang mempunyai pengaruh dominan dalam proses ini adalah aktivitas Negara,
bukan kapitalisme pribumi atau dominasi otonomi dariperusahaan umum” (Robert
Hefner, 1999 h.388)
Berkaitan dengan data
pendukung yang digunakan oleh penulis dengan menggunakan data pendeskripsian
dari sumber lain. Disini penulis menggambarkan data kondisi perekonomian
masyarakat yang banyak didominasi oleh usaha kecil. Berikut kutipannya,
“Gambaran yang lebih layak
barangkali menyerupai penggambaran penulis lain dalam konteks yang sangat
berbeda : “Suatu usaha kecil, buruh tani dan keluarganya berdampingan dengan
usaha kecil lain.” (Robert Hefner, 1999 h.381)
Konsep
disini berkaitan dengan konsep epic yang digunakan oleh penulis. Dimana penulis
menggunakan apa yang dalam ilmu psikologi sosial disebut sebagai “referensi
sosial”, yakni mengangkat perasaan diri seseorang melalui perbandingan dengan
kelompok lain. Berikut kutipannya,
“Mereka membangun apa yang disebut
oleh psikolog sosial “referensi sosial” atau mengangkat perasaan diri seseorang
melalui perbandingan dengan kelompok dan ideal-ideal lain(Sherif and Sherif
1969, 419; Feinman 1982, 445) ‘Kepentingan diri )self interest ) tidak
diturunkan dari deduksi rasional semata, atau dari semua refleksi solipsistik
yang ditekankan dalam pendekatan ekonomi neoklasik.” (Robert Hefner, 1999 h.391)
Berkaitan
dengan klaim yang digunakan adalah sesuai dengan kutipan yang berkaitan dengan
adanya kesadaran masyarakat mengenai terbatasnya kesempatan memperoleh
pendapatan sesuai dengan tantangan terhadap pembangunan yang berkelanjutan
sangat jelas. Berikut kutipannya,
“Meskipun sudah ada kesadaran yang
seperti mereka katakana “bumi sudah kehilangan keharumannya” (ora wangi maneh)
para petani hanya memiliki kesempatan yang terbatas untuk memperoleh pendapatan
yang berkelanjutan, apapun dampaknya atas ilihan tersebut bagi lingkungan di
masa depan” (Robert Hefner, 1999 h.386)
Selaras
dengan penyampaian bahasa, dapat ditemui retorik dalam penulisan ini. Retorik
sendiri terkait dengan suatu gaya bahasa penulisan si penulis. Terkait dengan
itu, gaya bahasa yang digunakan oleh penulis adalah bahasa yang formal. Namun
juga dapat ditemui adanya kalimat yang berasal dari bahasa asing, yakni kata
“prestise”. Dapat dilihat dari kutipan berikut,
“Demikian pula dengan struktur
investasi, pertukaran dan prestise yang
mendefinisikan pandangan hiduporang-orang pegunungan.” (Robert Hefner, 1999 h.)
Penulis juga
menggunakan gaya bahasa klasik yang dalam penggunaannya perlu untuk membaca dua
kali untuk memahami maksud dari kalimat tersebut. Berikut kutipannya,
“Keduanya merupakan hal yang kunci
dalam kondisi yang kita sebuat
sebagai modernitas” (Robert Hefner, 1999 h.403)
Diketemukan
juga kata yang bagi orang awam sulit untuk memahami. Dimana dalam buku tersebut
tidak dijelaskan secara umum apa yang dimaksud dengan kata yang berkaitan. Hal
ini tentu disayangkan mengingat pembaca bukan hanya dari kalnagan akademisi,
namun juga masyarakat umum ari latar belakang yang beragam. Berikut kutipannya,
“Sekalipun
demikian, pertimbangan ekonomi mempertentangkan, keduanya bukan merupakan epifenomena dari kapitalisme
industrial” (Robert Hefner, 1999 h.403)
Organisasi
tekstual yakni berhubungan dengan bagaimana si penulis menyampaikan isi
kepenulisannya. Hal ini terkait apakah konten yang disampaikan secara runtut
dan sistematis ataukah malah sebaliknya. Yakni cukup sistematis, ada dalam
artikel ini. Dalam prakata disini penulis terlalu dalam menjelaskan mengenai
perkembangan teori yang terjadi. Prakata penulis banyak mengulas hal yang
berkaitan dengan teori dan paradigm para ilmuwa. Hal ini tentu membuat pembaca
akan perlu memahami lebih dalam untuk mengetahui apa keterkaitan penulis
menjelaskan berbagai macam perkembangan dunia intelektual dengan kaitannya
masalah topic yang dibahas oleh penulis. Tentu singkat, padat dan jelas
diperlukan dalam suatu tulisan. Berikut kutipannya,
“Akhirnya teori modernisasi merosot
ketika “consensus ortodoks” (Giddens, 1984 xv) yang mendasari program kerjanya
dipertanyakan” (Robert Hefner, 1999 h.xiii)
“dalam akhir tahun 190-an adalah
munculnya kembali minat pada pendekatan hermeneutic, yang berpusat pada makna,
dalam memahami kehidupan sosial” (Robert Hefner, 1999 h.xiii)
Sumber
Pustaka :
1. Faculty
Cascadia. Cultural Anthropology : Historical Particularism.
faculty.cascadia.edu/tsaneda/cultural/theories/particularisticm.html diakses
tanggal 15 Maret 2017
2. Robert
W. Hefner, 1999. Geger Tengger : Perubahan
Sosial dan Perkelahian Politik. Halaman 379-403. Penerbit LKiS.

Komentar
Posting Komentar