Resume Artikel Fenomenologi Sebagai Suatu Sikap Hidup : Selayang Pandang Mengenai Fenomenologi Edmund Husserl dan Martin Heidegger
Pengantar : Problem Modernitas Sebagai Titik Tolak
Dalam dunia kehidupan sehari-hari, kita larut dalam berbagai kesibukan dunia modern:
mulai sari kerja rutin di kantor, memakai kompor dan listrik di rumah, memakai mobil dan
motor, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kenyataan ini mempertlihatkan bahwa saat ini
modernitas dan teknologi telah menjadi totalitas horizon yang melingkupi seluruh hidup kita.
Sejak zaman Anti-Klasik sampai dengan zaman Modern dengan segera kita akan melihat bahwa
apa yang terealisasikan dalam hidup praktis sehari-hari manusia ternyata pada mulanya berasal
dari dunia id-ide dan gagasan. Ide atau gagasan yang menjelma menjadi realitas inilah yang telah
membentuk jalannya sejarah umat manusia.
Modernitas ternyata tidak membuat manusia menjadi semakin bebas dan utu, melainkan
justru menjadikan manusia semakin terserak-serak, tanpa-makna, dan begitu tergantung dengan
teknologi. Di awal abad ke-20 (sekitar tahun 1900-1920) dua orang pemikir besar Jerman telah
melihat potensi ‘bahaya’ yang terkandung dalam cara-pandang dunia modern. Kandungan
bahaya yang melekat di dalam cara-pandang modern inilah yang membuat dua orang tersebut
menggagas apa yang disebut sebagai Fenomenologi. Kedua pemikir besar sekaligus
fenomenolog itu tidak lain adalah Edmund Husserl (1850-1939) dan Martin Heidegger (1889-
1976). Melalui dua tokoh besar tersebut dapat dikatakan bahwa fenomenologi untuk pertama
kalinya tampil sebagai kritik sistematis terhadap Modernisme.
Persoalan Dasar (Grundprobleme) Dalam Fenomenologi Husserl dan Heidegger
a. Persoalan Dasar dalam Fenomenologi Husserl
Pada 1900 di Jerman terbit suatu karya filsafat yang menyuntikkan semacam nafas baru bagi
dunia filsafat dan kebudayaan ketika itu. Karya itu adalah karya Edmun Husserl yang berjudul
Logische Untersuchungen (Penyelidikan-penyelidikan Logika). Kekhasan fenomenologi Husserl
terletak dari ketajamannya dalam memperlihatkan dua hal penting : 1) ketajaman Husserl dalam
menunjukkan akar permasalahan yang terdapat dalam dunia modern, 2) ketajaman Husserl dalam
memperlihatkan kemungkinan jalan keluar dari segala permasalahan modern tersebut.
Di satu sisi, bagi Husserl filsafat modern mengalami gerak subjektivisasi yang kemudian
kebablasan. Seluruh gerak pemikiran modern sejak Descartes sampai dengan Hegel dan juga John
Stuart Mill tidak lain merupakan gerak psikologisasi (subjektivisasi) terhadap seluruh realitas,
dan kemudian mendudukkan manusia sebagai Subjek Rasional di atas segala-galanya sebagai
pusat seluruh realitas (pengetahuan). Di sisi lain, Modernisme melepaskan alam dari daya magis-
spiritualitasnya, dan kemudian melihat alam semata-mata sebagai Objek yang dapat dikuasai
serta ditundukkan oleh nalar (rasio) manusia.
Modernisme bertolak dari pembedaan tegas dank eras antara Subjek dan Objek. Bertolak dari
pembedaan ini, Modernisme justru terjebak dalam kecenderungan untuk memutlakkan salah satu
kutub saja dari dua kutub Subjek-Objek itu. Bagi Husserl ketanpadasaran (Grundlossigkeit) dan
ketidakbermaknaan (Sinnlossigkeit) modernitas inilah yang juga telah merasuk dan meresap ke
dalam diri serta mentalitas manusia modern sedemikian rupa sehingga banyak dari manusia
modern yang bahkan tercabut terasing dari dirinya sendiri.
Persoalan Dasar dalam Fenomenologi Heidegger
Bagi Husserl problem dunia modern terletak pada persoalan seputar cara bagaimana
manusia dan dunia itu dilihat serta dipahami. Persoalan tentang cara bagaimana sesuatu itu
bisa dipahami, dalam bidang filsafat, termasuk ke dalam problem epistemology. Oleh sebab itu
dengan menekankan pada cara bagaimana sifat dasar manusia dan dunia dapatdipahami, Husserl
mengarahkan fenomenologi kepada bidang epistemology. Dengan mengikuti prinsip-rinsip dasar
Husserl, Martin Heidegger akan meradikalkan persoalan fenomenologi kepada problem
ontology. Modernisme menyamaratakan begitu saja antara (1) realitas sebagaimana yang
dipikirkan dengan realitas sebagaimana adanya, (2) apa yang bersifat “pengada” dengan apa
yang fundamental.
Heidegger melihat bahwa pemikiran-pemikiran peradaban Barat sejak Zaman Antik-Klasik
memilii kecenderungan untuk menjadikan nalar (rasio) yang sifatnya terbatas dan subjektif itu
sebagai titik pusat (titik Archimedes) dalam memahami seluruh realitas. Akibatnya manusia
modern tidak lagi dapat membedakan antara (1) cara pandang dunia yang terbatas dengan dunia
yang tidak terbatas, (2) metode dalam memahami realitas dengan realitas itu sendiri, (3) pikiran
tentang apa yang ada dengan yang ada itu sendiri, (4) pengada-ada yang bersifat mentak dengan
Ada yang bersifat mendasar. Heidegger telah memberikan kesegaran baru dalam dunia filsafat.
Fenomenologi Sebagai Suatu Cara Melihat dan Sikap Hidup
Metode deskripsi fenomenologis bermaksud untuk menyingkapkan struktur-struktur yang
paling mendasar dari sesuatu yang menampakkan/memberikan dirinya itu. ‘Melihat’ dalam
fenomenologi memiliki arti yang mendalam. (1) memiliki arti pasif, artinya dengan ‘melihat’
seseorang menunda atau menangguhkan segala pra-sangka, pra-anggapan, pra-konsepsi yang
tersimpan dalam benak serta kesadarannya. (2) memiliki arti aktif, yakni kesadaran yang
menyingkapkan struktur dasar dari sesuatu dan masuk ke dalam lapisan realita yang paling
mendalam. Inilah yang disebut aktif kesadaran atau aktivitas kesadaran. Maka dalam
fenomenologi Husserl, ‘melihat’ selalu secara bersamaan mengandaikan artinya yang pasif dan
aktif.
Kekhasan manusia terletak bukan hanya pada kemampuan (daya) nalar-rasionalitasnya
belaka, melainkan juga pada kemampuan (daya) manusia untuk menegaskan. Menegaskan dalam
artian menegaskan diri dan memaknai hidupnya dihadapan hamparan realitas yang tidak terbatas
itu. Fenomenologi lebih menekankan pada kemampuan manusia untuk memaknai hidupnya
dengan bersikap tepat dihadapan realitas. Modernitas membatasi cara pandang manusia
sedemikian rupa. Sehingga ia tidak lagi menyadari keberakarannya atau keterarahannya pada
ketidakterbatasan makna.
Penutup
Bagi fenomenologi, apa yang penting tidaklah terletak entah pada diri manusia itu sendiri,
ataupun pada dunia itu sendiri. Bagi fenomenologi yang lebih penting itu adalah relasi
kemungkinan dan pemaknaan yang terjadi antara manusia dengan dunianya (sesamanya).
Fenomenologi dapat dikatakan telah mengarahkan kembali problem filsafat dari sekedar
persoalan mengenai metode pengetahuan yang bersifat khusus, kepada persoalan mengenai cara
berada dan sikap hidup.
Komentar
Posting Komentar